Pondok Pesantren Langitan adalah salah satu
pondok tertua di dataran nusantara yang terus konsisten pada sistem kesalafan
dan ulama’ sholih yang termuka di dunia, namun bukan berarti melupakan
kebutuhan zaman seperti landasan “Al muhafadhotu ala qodimis sholih wal ahdu
bil jadidil aslah” tak heran sederet ulama’ dan tokoh termuka mempunyai
cacatan sebagai pelajar di pondok Langitan.
Kharisma
Lagitan makin bersinar terang dan punya nama besar di pendidikan. Terbukti
dengan banyaknya ulama’ dan tokoh tingkat nasional dan internasional pernah
berkunjung di pesantren yang tercinta ini. Semua BAGAI permata yang jarang
sekali dimiliki oleh sistem pendidikan yang lain.
Permata
itu adalah Akhlakqul Karimah yang menjadi takaran utama dan sebagai acuan
keberhasilan santri. Bukan dinilai pintar dan pandainya, pun juga bukan dari sederet
prestasi yang mengunung. Namun ukuran sesungguhnya yang sejati adalah tingkat kepatuhan dan
ketawadhu’an para santri kepada segenap para Masyayekh dan para Asatidz.
Permata
inilah yang menjadi andalan para santri sejak daluhu, yang di jaga dari masa ke
masa. Namun apa yang terjadi pada generasi saat ini. permata aklakul karimah
Langitan makin meredup. Entah fenomena apa yang terjadi. Mungkinkah santri sekarang
sudah tidak membutuhkan permata yang jarang dimiliki di abad modern ini.
Miris
memang melihat apa yang terjadi. Tapi inilah kenyataan yang terjadi ketika
permata Langitan tidak lagi diperdulikan. Mungkin beberapa kasus di bawah ini
adalah cerminan alasan mengapa permata di Langitan zaman ini semakin hilang.
REDUPNYA AKHLAQUL KARIMAH
Akhlaqul
karimah adalah permata yang paling berharga. Inilah yang berlaku di pondok
tercinta ini. Seperti halnya saat mereka berhenti ketika masyayekh atau guru yang
sedang lewat di depanya. semua ini di lakukan semata-mata untuk menhormati
kepada beliau.
Namun apa yang ter jadi sekarang ini. Sebagian
dari kita banyak yang tidak perduli. Bahkan nyelonong lewat berlagak tidak
tahu. Padahal inilah salah satu cara agar ilmu yang didapat lebih barokah.
·
RAME
PADA WAKTU JAMA’AH
Berjama’ah
adalah salah satu pilar utama yang wajib dilaksanakan tanpa pandang bulu di
pesantren ini. Seperti dawoh Syaihina Abdullah Faqih “jama’ah iku iso nyegah
keelek’an lan iso nguwatno umat islam”. Memang benar demikian adanya
berjama’ah bisa mencegah kemungkaran. Namun agaknya jama’ah harus benar-benar dilakukan dengan
baik. Akan tetapi pilar utama kini telah dinodai para santri sendiri. Hal itu
bisa diterawang dari sikap mereka yang selalu rame-rame sebelum jama’ah, guyon
ketika wiridan, belum lagi santri shobi yang sering kali bermain.
·
MELANGAR
“Nek kapan awak mu ngaku santri
ku ojo pisan-pisan rokok’an lan melanggar”. Itulah salah satu dawohnya
Syaikhina yang sangat menjadi pedoman bagi para santri. Yang diharapkan agar
tidak merokok dan melangar aturan pondok serta menjaga kesakralan Langitan, namun
agaknya sekarang ini ternodai oleh sebagian santri yang tidak tahu diri.
bayangkan saja bila santri dulu menjaga kepatuhan seluruh peraturan yang ada,
namun sekarang ini banyaknya santri yang melanggar.
Banyaknya
santri yang melanggar tanpa alasan. Mungkin dalam hatinya kurang rasa takut
kepada masyayekh. Padahal kita sudah diberi segala-galanya terutama dalam segi
keilmuan yang tanpa kita sadari belum bisa membalasnya dengan baik.
Hal
yang perlu diperhatikan saat ini adalah tugas kita bersama dalam menapaki
perjalanan nyantri di pesantren tercinta, serta mengembalikan permata yang
sudah hilang kepangkuan kita dengan memperbaiki prilaku dan tindak laku kita
sebagaimana cerminan santri Langitan. Kita harus menguatkan kembali akhlaqul
karimah yang sudah menjadi ciri khas Langitan. Apalagi menjelang haul ini kita
diharapkan sopan santun terhadap semua tamu yang berkunjung ke langitan. mari
kita tancapkan kembali jiwa santri menuju Langitan yang lebih cerah.

0 Komentar